Kaltara Online: Malinau
Showing posts with label Malinau. Show all posts
Showing posts with label Malinau. Show all posts

Monday, October 27, 2014

Pertunjukan Adat Bulungan Pada Pekan Budaya Irau Malinau 2014

Pertunjukan Adat Bulungan Pada Pekan Budaya Irau Malinau 2014

Pertunjukan Upacara Adat Bulungan dan Adat Tahol sebagai penutup dalam rangkaian acara pertujukan Adat HUT Kab. Malinau dan Irau pada Sabtu (25/10). Adat Bulungan memilih prosesi Adat Betimbeng untuk dipertunjukkan dalam HUT Kab. Malinau dan Irau. Adat Betimbeng adalah upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bulungan. Upacara tersebut sering dilakukan pada anak bayi yang lahir pada bulan syafar (sepor). Hal tersebut dilakukan 7 hari atau 14 hari setelah bayi tersebut dilahirkan.

Upacara Adat Betimbeng adalah suatu keharusan untuk dilakukan meskipun tidak ada satu perintahpun untuk melakukannya. Namun sudah menjadi mitos yang berkembang pada masyarakat Bulungan, maka adat tersebut dilestarikan dan menjadi tradisi secara turun-temurun. Bulan syafar menurut mitos tersebut adalah bulan nahas sehingga setiap  bayi yang lahir pada bulan syafar diyakini akan menjadi keras dalam berprinsip. Untuk mengimbangi hal tersebut, dilakukan upacara timbangan (timbangan ayun) pada bayi tersebut.

Pada prosesi Adat timbangan ayun, si orang tua wajib menyiapkan beberapa jenis tumbuhan, makanan serta berbagai kebutuhan dari bayi diantaranya bayam, kangkung, ketan, timbangan, sapot (ayunan anak), beras dan lain-lain. Jenis timbangan ayun ini mempunyai makna agar bayi tersebut kelak mandiri tanpa ketergantungan dengan pihak lain serta mampu menjadi spirit bagi keluarga dan orang banyak dan diharapkan agar bayi tersebut kelak hingga berumah tangga selalu diberikan rezeki dari Allah SWT. Sedangkan timbangan ayun dengan batu, parang dan air diharapkan agar bayi tersebut kelak mempunyai jiwa serta keras dalam hal yang prinsip, tajam dalam pemikiran serta dingin hatinya sedingin air yang menyatu dalam prosesi upacara Betimbeng.

Adapun makna daripada bahan dan perlengkapan tersebut di atas seperti sayur-sayuran adalah supaya dapat memberi manfaat yang baik dalam kehidupan sehari-hari, mempunyai jiwa yang lemah lembut, kesejukan hati dan mempunyai prinsip yang baik serta luhur dalam hidup. Selain itu agar bayi tersebut tumbuh menjadi orang yang bermanfaat bagi orang tuanya, masyarakat dan agamanya. Peralatan Pendudu’ setelah Adat Betimbeng dilaksanakan maka akan diberikan kepada pengguling (pengasuh) bayi tersebut. Si bayi yang ditimbang ini, setiap rabu akhir bulan syafar selalu dilakukan upacara prosesi Adop-adop (menghadap nasi hitam dan ketupat) hingga bayi tersebut beranjak dewasa sampai tua dan bercucu. Adat istiadat ini setiap tahun dilaksanakan. Begitulah prosesi Adat Betimbeng dari Adat Bulungan dipertunjukkan untuk menunjukkan bahwa setiap Adat memiliki cirri khas masing-masing yang perlu kita hargai dan lestarikan.

Daftar Apotek Yang Ada di Kabupaten Malinau Kaltara

Berikut adalah Daftar apotek yang ada di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara :

 






































NONAMA APOTEKALAMATTLP/FAXPENANGGUNG JAWAB
1Apotek ntimungJl. Seluwing RT XI No. 35,Malkot(0553)21789M.Marwan Longde,S.Si.,Apt
2Apotek MandiriJl.Pemda RT XII,Malkot-Eric Frada H.R.Ngir,S.Farm.,Apt
3Apotek PrimaJl. Seluwing,Malkot-Selfie Palalangan,S.Si.,Apt
4Apotek MalinauJl. Raja Pandita RT VII,Tg.Belimbing,Malkot-Devi Yeni S,S.Farm.,Apt

Saturday, October 25, 2014

Kabupaten Malinau Bentuk Komunitas Anti Narkoba

kabupaten malinauBertempat di Alun-alun Pemda Kab. Malinau telah berlangsung acara peresmian Pembentukan Komunitas Masyarakat Anti Narkoba Kab. Malinau. Acara tersebut diikut sekitar 1000 orang, hadir diantaranya Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si, Wakil Bupati Malinau Topan Amrullah, S.Pd, jajaran SKPD dan FKPD Kab. Malinau serta perwakilan dari pelajar dan masing-masing kecamatan. Dalam laporannya, Ketua Panitia AKP Sayadi menyampaikan bahwa jumlah yang diperkirakan tidak lebih dari 500 orang, akan tetapi ternyata jumlah partisipan yang ingin mengikuti komunitas anti narkoba ini lebih dari 1000 orang. Ini menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk memberantas narkoba di Kab. Malinau sangat tinggi. Hal ini sangat positif dan diharapkan untuk kedepannya digelar sebuah acara yang dapat memberikan pengetahuan masyarakat tentang bahaya narkoba dan akibat jika mengkonsumsinya walaupun pihak Kepolisian sudah melaksanakan sosialisasi agar masyarakat mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari mengkonsumsi narkoba itu sendiri. Dalam acara tersebut, Martina pelajar dari SLB (Sekolah Luar Biasa) Kab. Malinau membacakan sebuah surat yang ditujukan untuk Bupati dan Wakil Bupati Malinau. Dalam surat tersebut, pelajar SLB Kab. Malinau mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya karena telah dibuatkan gedung baru dan mereka berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah alat bantu dengar dan perlu adanya tambahan jumlah guru yang mengajar disana. Acara dilanjutkan dengan pemusnahan barang bukti Narkotika yang telah disita.

Dalam sambutannya Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si menyampaikan mari kita ciptakan Kab. Malinau yang aman dan damai dengan bersatu untuk memerangi narkoba karena narkoba sudah menyerang semua kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, bahkan orang tua. Dan yang mengejutkan sebagian besar pemakai narkoba adalah dari kalangan usia produktif. Ini yang membuat kita semua prihatin. Oleh karena itu mari kita bersama-sama menyatakan menjauhi narkoba terutama para pelajar jangan sampai merusak masa depan sendiri dengan narkoba, komunitas yang dibentuk ini bertujuan untuk menciptakan Kab. Malinau yang berubah, maju dan sejahtera.

sumber : kodimmalinau.com

Friday, October 24, 2014

Meriahnya Berbagai Macam Seni dan Budaya di Pekan Budaya Malinau 2014

Meriahnya Berbagai Macam Seni dan Budaya di Pekan Budaya Malinau 2014Masih dalam rangkaian kegiatan HUT Kab. Malinau dan Irau, pada Kamis (23/10) yang mendapat giliran tampil mempertunjukanan seni dan budayanya adalah dari Paguyuban Sa’ben, Bubuhan Banjar (KBB) dan KKB NTB serta KKB NTT. Satu persatu masing-masing paguyuban menampilkan ciri khas  seni dan budayanya tak terkecuali dari KKB NTT. Tari-tarian yang ditampilkan dari KKB NTT berkisah tentang keseharian hidup di kampung halaman, dalam keadaan senang atau susah, dikala untung dan malang serta di kala perang dan damai. Tari pertama yang ditampilkan KKB NTT adalah tari Silli. Silli berarti seni menghindar atau mengelak dari serangan lawan. Silli adalah tarian Inisiasi atau pelantikan seorang anak laki-laki Lamalohot memasuki masa kesewasaan. Makna filosofinya adalah bahwa seorang anak melepaskan ketergantungan pada orang tuanya dan mulai berdikari. Dia harus mampu berjuang melawan setiap tantangan yang menghadang dalam hidupnya.

Butuh sebuah konsentrasi dan kesadaran pada nilai-nilai kebenaran agar seseorang menjadi pemenang dalam pergulatan hidup. Tarian selanjutnya adalah ja’i Reba. Ja’i  Reba dalam bahasa Bajawa, ja’i berarti tarian dan Reba artinya pertemuan keluarga besar untuk bersyukur dan bergembira. Jadi tarian Ja’i Reba adalah tarian syukur kepada Tuhan atas berkat limpahan yang diberikanNya dalam kehidupan manusia. Tarian ini biasanya dimainkan selama tiga hari  tiga malam. Masyarakat Bajawa bergembira dengan makan minum dan menari bersama-sama. Aktifitas rutin dilupakan sejenak hanya untuk bergembira dan bersyukur dalam tarian dan nyanyian.

Sebagai tari penutup adalah tari Hedung Dope yang berarti menghantar dengan keiklasan hati dan doa agar yang berangkat dapat sampai di tempat tujuan dengan selamat. Setelah kita merayakan kegembiraan ulang tahun ke-15 ini apa yang dapat kita bawakan untuk diri, keluarga dan masyarakat Malinau? Mari kita hantar program-program populis pemerintah daerah ke medan tugas dan pengabdian kita agar cita-cita Malinau dapat terwujud meskipun dalam peran yang kecil dan sederhana. Itulah pesan yang ingin disampaikan dari Tari Hedung Dope.

Segenap warga KKB NTT menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga atas diperkenankannya kami untuk dapat tampil dan ikut ambil bagian dalam kegembiraan masyarakat Malinau. Kegembiraan ini membuat kami semakin mencintai Malinau. Rasa cinta ini kami tuangkan pada sebuah motto “Melalui Keragaman Tarian Daerah Kita Wujudkan Sebuah Keluarga Bangsa”. Rasa Setelah pementasan dari semua paguyuban berakhir, Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si dalam sambutannya menyampaikan Mari kita bangun Malinau ini dengan semangat persatuan.

Walaupun berbeda-beda suku dan etnis, tetapi itu bukan halangan untuk kita menjadi maju. Jika memang terdapat perbedaan antar suku mari kita akui tetapi jangan mengada-ada dalam perbedaan. Kita semua merupakan satu kesatuan yang tanpa persatuan kita tidak akan bisa membangun Malinau ini dengan baik. Semua memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu perlu adanya sikap saling menghargai dan toleransi didalam perbedaan. Perbedaan itu akan menjadi indah jika dapat bersatu seperti pelangi yang berbeda-beda warna tetapi mampu membuat mata berdecak kagum. Seperti teman-teman kita yang berasal dari berbagai daerah diluar Malinau.

sumber : kodimmalinau.com

 

Thursday, October 23, 2014

Upacara Adat Dayak Tingalan dan Dayak Punan Pada Acara Irau Malinau 2014

adat Suku Dayak TingalanMasyarakat Suku Dayak Tingalan tidak mau ketinggalan meramaikan HUT Kab. Malinau dan Irau. Pada hari Rabu (22/10) masyarakat Suku Dayak Tingalan mendapat kesempatan untuk menampilkan seni dan budaya yang mereka miliki. Tarian Gong Irama Panaawan menjadi tari pembuka dalam pertunjukan yang digelar Suku Dayak Tingalan. Tarian tersebut menggambarkan perdamaian dan persatuan. Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Adat Suku Dayak Tingalan Kab. Malinau menyampaikan terima kasih kepada Bupati Malinau beserta rombongan yang telah mau meluangkan waktunya. Melihat perkembangan Kab. Malinau dari tahun ke tahun kami merasa Malinau ini berkembang dengan sangat pesat beberapat tahun terakhir. Kami sebagai salah satu bagian dari macam-macam etnis mendukung semua program pemerintah daerah yang berdampak baik bagi kami karena kami sudah merasakan hasilnya.

Pertunjukan yang ditampilkan Suku Dayak Tingalan adalah sejarah makanan khas Suku Dayak Tingalan. Pada jaman dahulu, moyang Suku Dayak Tingalan tidak hanya mengenal bahan makanan daging dan buah. Bahan makanan yang pertama kali ditemukan adalah Polod. Peristiwa ditemukannya bahan makanan dari pohon Polod bukan ditemukan lewat mimpi melainkan petunjuk yang diperoleh dari seekor anjing. Keberadaan anjing dalam kehidupan Suku Dayak Tingalan berperan sebagai teman dan penjaga. Anjing tersebut menggonggong atau menyalak pohon Polod terus-menerus tidak mau pindah dari tempat tersebut. Akhirnya moyang Dayak Tingalan melihat apa yang digonggong dan ternyata hanya sebuah pohon. Pertama moyang tidak menghiraukan tetapi lama-kelamaan karena jengkel kemudian pohon Polod diambil. Tak lama kemudian anjing tersebut mengais di sekitaran pohon Polod dan terdapat jatuhan dari pohon Polod semacam kapas berwarna coklat. Tanpa berfikir panjang moyang pun pengambil benda yang seperti kapas tadi dan kegunaan dari benda tersebut adalah cikal bakal adanya api dengan nama “Tiikan Todok”. Tiikan Todok adalah korek api dari bambu dengan todok dari polod. Setelah itu, anjing peliharaan moyang menemukan air dengan gonggongannya. Patipolod berwarna putih itulah yang digonggongnya dan baik untuk dibuat sebagai makanan.

Karena pengelolaan polod dirasa rumit dan manusia semakin banyak, maka bahan makanan pun beralih ke pohon sagu hutan atau yang di sebut Suku Dayak Tingalan adalah paluon. Paluon terbilang lebih lama dikonsumsi. Permasalahan yang timbul adalah pohon sagu hutan semakin langka dan pengolahannya pun dirasa masih rumit karena harus menggunakan ritual-ritual yang harus dipatuhi. Setelah beberapa kurun waktu, terutama setelah ditemukannya singkong atau ubi kayu, maka makanan khas Suku Dayak Tingalan beralih ke singkong. Sejak saat itu sampai sekarang ini, makanan tersebut masih di makan. Selain regenerasi yang lebih cepat, singkong juga mudah dalam hal pengolahannya.

Selesai dengan pertunjukan dari Suku Dayak Tingalan, pada siang harinya digelar pertunjukan dari Suku Dayak Punan.  Dayak Punan adalah sub suku Dayak yang istimewa karena tidak seperti suku Dayak lain yang mengenal sistem perkampungan. Dayak Punan mempraktekan hidup nomadic atau hidup berpindah-pindah di hutan. Namun saat ini sudah banyak yang menempati perkampungan, jika di Kalimantan Tengah, Dayak Punan yang menempati perkampungan disebut sebagai Punan Pamarentah. Beberapa ahli meyakini Dayak Punanlah penduduk awal pulau Kalimantan. Persebaran Dayak Punan hampir merata di semua Kalimantan, dan Dayak Punan memiliki banyak rumpunnya misal Punan Hovongan di Kalimantan Barat, Punan Kareho, Punan Murung di Kalimantan Tengah. Dalam kesempatan yang diberikan Suku Dayak Punan menampilkan berbagai kesenian yang mereka miliki. Kesenian-kesenian yang dimiliki oleh masing-masing suku merupakan sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa karena dengan adanya berbagai kesenian dan kebudayaan yang kita miliki, menunjukkan betapa indahnya Malinau didalam perbedaan. Seperti Pelangi yang semakin banyak warna akan semakin terlihat indah, begitulah penyampaian dari Bupati Malinau Dr. Yansen TP. Msi.

sumber : kodimmalinau.com

Wednesday, October 22, 2014

Upacara Adat Kenyah dan Pertunjukan Budaya KKSS Pada Pesta Budaya Irau Malinau 2014



Masih dalam rangkaian kegiatan HUT Kab. Malinau ke-15 dan Irau ke-8, dipertunjukkan Upacara Adat Kenyah dan pertunjukan dari Paguyuban KKSS (Keluarga Besar Sulawesi Selatan). Adat Kenyah merupakan salah satu dari sekian banyak Adat Dayak. Dari sejarahnya Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari dataran tinggi Usun Apau, daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau.

Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas. Suku Kenyah merupakan 2,4% penduduk Kutai Barat. Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Utara. Bukan Saja terdiri daripada seni ukiran tetapi tari-tariannya. Pada HUT Kab. Malinau dan Irau, prosesi Upacara Adat Kenyah diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan tarian pembuka. Setelah Bupati hadir dalam upacara Adat Kenyah, Bupati kemudian disambut dengan pemotongan babi sebagai tanda bahwa penghormatan kepada seorang pemimpin yang telah datang. Lembaga Adat Dayak Kenyah menganugerahkan nama kehormatan pada Bupati Yansen TP dan istri, Ny Ping Ding. Pemberian nama kehormatan dilakukan melalui upacara adat yang digelar dalam rangkaian Pesta Budaya Irau, Senin (20/10) di Alun-alun Kantor Bupati Malinau.

Dalam upacara ada yang dihadiri oleh Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah Malinau, Jhonny Laing Impang dan pengurus, serta para kepala adat besar dan kepala adat kecamatan, Dr. Yansen TP, M.Si diberi nama Apui Lenjau sementara Ny Ping Ding diberi nama kehormatan, Bulan. Nama Apui Lenjau dan Bulan, bagi masyarakat Kenyah adalah dua nama yang memiliki nilai istimewa. Nama tersebut diberikan khusus sebagai penghargaan masyarakat Kenyah pada seseorang yang dipercaya dan diharapkan dapat membawa kemajuan serta kesejahteraan pada masyarakat. Dalam hal ini adalah Bupati Yansen TP selaku pemimpin daerah yang telah dan diharapkan akan terus memikirikan serta mempedulikan masyarakat Kenyah.

Upacara Adat Kenyah dan Pertunjukan Budaya KKSS Pada Pesta Budaya Irau Malinau 2014

Pemberian nama ditandai oleh ritual adat dan pemasangan baju kebesaran yang dilakukan oleh Kepala Adat Besar Bahau Hulu, Ibau Ala, yang juga anggota DPRD Malinau. “Pemberian nama tersebut sekaligus menjadikan Pak Bupati sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Kenyah,” terang Ibau Ala usai upacara.
Hal yang sama juga disampaikan Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah Malinau Jhonny Laing Impang. Pemberian nama kehormatan, ungkapnya, merupa-kan tradisi-budaya masyarakat Kenyah yang biasa dilakukan terhadap orang yang berjasa dan diharapkan dapat memimpin mereka ke arah kemajuan. Harapan itulah yang ditegaskan Jhonny Laing Impang berada dibalik itu. “Masyarakat Kenyah mendukung pemerintah dalam menyukseskan berbagai agenda pembangunan. Sekaligus mengharapkan agar pemerintah juga terus mempe-dulikan kehidupan mereka terutama yang berada di pedalaman dan perbatasan,” ungkapnya.

Di pertunjukan KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) sendiri dimulai pada pukul 15.30 Wita bertempat dipanggung utama. KKSS merupakan gabungan dari beberapa suku yang berasal dari Sulawesi Selatan yaitu suku Bugis, Mandar, Toraja dan Makassar. KKSS mempersembahkan tari-rarian yang merupakan tari khas dari daerahnya. Tari yang ditampilkan dalam HUT Kab. Malinau dan Irau diantaranya tari Gandrang Bulo, tari Parraga, tari Mencang dan tari Kolosal yang merupakan gabungan dari suku-suku yang tergabung dalam KKSS. Dalam sambutannya Bupati Malinau memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat yang telah ikut mensukseskan Gerdema (Gerakan Desa Membangun). KKSS merupakan satu dari sekian banyak paguyuban yang berada di Kab. Malinau ini dan saya berharap mari kita sama-sama bersatu membangun daerah kita ini agar semakin terdepan, maju dan sejahtera. Tanpa adanya persatuan dan kesatuan kita ditak akan bisa memberikan yang terbaik untuk daerah ini. Semua orang berperan penting dalam tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran.

sumber : kodimmalinau.com

Seminar Sehari tentang peran dan fungsi Adat Pada Pekan Budaya Irau ke 8



Di hari ke dua perayaan HUT Kab. Malinau ke-15 dan Irau ke-8, Pemkab. Malinau menggelar Seminar Sehari tentang peran dan fungsi Adat. Adat itu sendiri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan nilai-nilai dan kultur dasar yang turut memperkokoh landasan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di samping itu, Adat juga telah memperkaya khasanah budaya bangsa yang turut memberikan andil bagi terbentuknya tatanan nilai sosial itu sendiri, baik secara legal formal maupun secara informal. Adat atau adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat merupakan salah satu modal sosial yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pelaksanaan pembangunan. Pemerintah dalam hal ini memandang perlu dilakukan upaya-upaya pelestarian dan pengembangan peran serta fungsi adat dan tatanan nilai-nilai sosial budaya masyarakat di bangun dengan mengedepankan, paling tidak, tiga pilar utama yaitu pilar pengembangan, pilar pelestarian dan pilar kemandirian. Potensi dan aset adat istiadat serta nilai sosial budaya masyarakat sangat besar, namun belum didayagunakan secara optimal, khususnya dalam memberikan fundamental ke arah peningkatan perekonomian masyarakat secara nyata.

Pelaksanaan Seminar Sehari di Kab. Malinau ini adalah kerjasama antara Pemerintah Kab. Malinau dengan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, dimana Pemerintah Kab. Malinau memfasilitasi pelaksanaan Seminar, sedangkan narasumber berasal dari Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia. Sebagaimana tema Seminar “Peningkatan Peran dan Fungsi Adat dalam prespektif Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa”. Seminar diadakan di Pemda Kab. Malinau tepatnya diruang Tebengang. Peserta Seminar terdiri dari Lembaga Legislatif Kab. Malinau, FKPD Kab. Malinau, SKPD Kab. Malinau, Perwakilan Lembaga-lembaga Adat di Kab. Malinau dan unsur LSM yang berkaitan dengan Adat di Kab. Malinau. Karena bertepatan dengan HUT Malinau dan Irau, sehingga para peserta yang tinggal dipelosok daerahpun ikut ambil bagian dalam acara tersebut. Mereka ingin menyampaikan apa yang ada di benaknya serta ingin menanyakan berbagai peraturan pemerintah yang belum mereka pahami. Terdapat 3 nara sumber yang memberikan penjelasan tentang Peningkatan dan Peran Adat Dalam Perspektif UU No. 6 tahun 2014. Nara sumber tersebut antara lain Direktur Jendral Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PMD) Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, Pimpinan Aliansi Masyarakat Adat Nasional atau yang lebih dikenal dengan (AMAN) serta dari Dosen IPDN Prof. Dr. Sadu Wasistiono, M.Si. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Mars Gerdema.

Dalam sambutannya, Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si menyampaikan “Mari kita bahas secara bersama-sama semua perbedaan. Perbedaan bukanlah penghalang kita untuk terus maju tapi jadikanlah perbedaan itu seperti pelangi yang saling melengkapi. Bertepatan dengan HUT Kab. Malinau dan Irau, ini merupakan kesempatan yang sangat baik sehingga semua masyarakat yang tidak bisa datang menjadi datang”. Selaku moderator yakni Sekda Kab. Malinau Prof. Dr. Antri Patton, M.Si. Dalam acara tersebut, nara sumber menjelaskan terlebih dahulu tentang materi yang telah disiapkan. Setelah selesai memberikan penjelasan, masuk pada sesi yang ke dua yaitu tanya-jawab. Banyak masyarakat yang ingin bertanya tetapi karena keterbatasan waktu sehingga moderator hanya memberikan kesempatan kepada beberapa orang saja. Seminar tersebut bertujuan untuk dapat memantapkan program pelestarian dan pengembangan adat-istiadat serta nilai-nilai sosial budaya, mendukung budaya nasional dalam mencapai dan mewujudkan ketahanan nasional serta keutuhan NKRI.

Pada pukul 15.00 Wita, Bupati dan rombongan menghadiri acara pembukaan Pertandingan Olahraga Berprestasi Seluruh Cabang. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan “Semua olahraga mempunyai standarisasi masing-masing yang harus dipenuhi oleh seluruh tim, jadi bagi yang tidak memenuhi standar jangan memaksakan diri untuk mengikuti cabang olahraga tersebut. Bertepatan dengan HUT Malinau dan Irau, mari kita mengkoreksi atas semua hal yang telah kita lakukan dan instrospeksi diri, apa saja yang telah kita berikan kepada Kab. Malinau yang kita cintai ini. Kritikan itu memang menyakitkan tapi harus kita terima dengan lapang dada. Setelah itu kita bangkit dan tunjukkan pada daerah lain bahwa kita bisa. Negara kita menduduki peringkat empat dunia dalam hal jumlah penduduk. Tapi kenapa kita tidak bisa bersaing dengan Negara lain yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dari kita. Itu karena kita masih tidak serius dalam menggeluti bidangnya masing-masing” ungkapnya. Setelah memberikan sambutan, Bupati menyaksikan pertunjukan Taekwondo yang dilakukan oleh para pelajar dari SD sampai SMA se-Kab. Malinau. Mereka menunjukkan keahlian mereka dengan lihainya. Para penonton dibuatnya berteriak memberikan semangat. Setelah demonstrasi selesai akan digelar pertandingan Sepak bola. Bupati membuka pertandingan sepak bola tersebut secara simbolis dengan menendang bola tanda dimulainya pertandingan. Kemudian Bupati beserta rombongan berkeliling menyaksikan cabang olahraga yang dipertandingkan pada hari ini

sumber : kodimmalinau.com

Meriahnya Pekan Budaya Irau ke 8 dan HUT Malinau ke 15



Perayaan Ulang tahun dan pesta rakyat di Kab. Malinau masih berlangsung sampai tanggal 27 Oktober 2014. Setiap hari digelar pertunjukan upacara Adat dan perlombaan antar kecamatan. Pertunjukan upacara Adat dari suku Kayan merupakan salah satu upacara Adat yang tampil pada Selasa (21/10). Suku Kayan adalah suku Dayak dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak.

Ketika memasuki Kalimantan Timur suku Kayan pertama-tama menetap di daerah Apau Kayan di daerah aliran sungai Kayan, karena alasan perang antar suku dan mencari daerah yang lebih subur serta daerah asal (Apau Kayan) yang sangat tertinggal dan terisolir, suku Kayan meninggalkan Apau Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun dan bermigrasi menuju daerah-daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya, yaitu sekarang menetap di daerah aliran sungai Wahau (daerah Suku Wehea) di Kabupaten Kutai Timur.

Prosesi Adat menyambut Bupati beserta rombongan yang dipimpin oleh Ketua Adat Kayan menjadi pembuka dalam pertunjukan upacara Adat Kayan. Dalam tradisi suku Kayan pada tempo dulu apabila akan melaksanakan upacara Adat apapun jenisnya terlebih dahulu wajib mendirikan tombak pusaka Kayan yang disebut Bakin Kelikah sebagai simbol di mulainya pelaksanaan Upacara Adat, tidak ada seorangpun yang bisa merebahkannya selama kegiatan Upacara Adat berjalan. Bakin Kelikah dibuat dari besi keluh dengan ukuran 1 Meter dan tiang dibuat dari kayu Merang atau kayu Gare yang ukurannya sebesar 10 x 10 cm.
Setelah pertunjukan upacara Adat Kayan selesai, Bupati dan rombongan melaksanakan makan bersama dan untuk masyarakat yang datang juga telah disiapkan makanan di sekitar alun-alun.

Meriahnya Pekan Budaya Irau ke 8 dan HUT Malinau ke 15

Hal ini menunjukkan betapa dekat dan pedulinya seorang pimpinan dengan rakyatnya. Perlombaan masak menjadi acara selanjutnya. Tim dari Legislatif Kab. Malinau mendapat tantangan dari tim Eksekutif Kab. Malinau. Semua pimpinan turun langsung mencoba mengkreasi masakan. Kekompakan dalam sebuah tim sangat dibutuhkan karena jika salah dalam menakar, akan berakibat pada hasil masakan yang telah dibuat.

Bersaamaan dengan lomba masak, di sisi kiri panggung utama berlangsung juga lomba tarik tambang. Perlombaan tersebut diikuti 15 kecamatan yang ada di Kab. Malinau. Perlombaan ini juga memerlukan sebuah kekompakan dan juga strategi yang jitu, jika salah dalam membuat strategi, dengan mudah lawan akan berhasil memenangkan perlombaan.

sumber : kodimmalinau.com

Pertunjukan Etnis Tionghoa dan Adat Lundayeh Pada Acara Irau Malinau ke 8

Pertunjukan Etnis Tionghoa dan Adat Lundayeh Pada Acara Irau Malinau ke 8 -

Menginjak hari ke empat perayaan HUT Kab. Malinau dan Irau, Di tampilkan pementasan Upacara Budaya Dayak Lundayeh yang merupakan satu dari sekian suku Dayak yang ada di Kab. Malinau. Pementasan tersebut dihadiri sekitar 1000 orang dari berbagai daerah bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Upacara dimulai dengan Neteg Tawaq yaitu menanti kedatangan Bupati dan rombongan dengan bunyi-bunyian Gong. Bupati dan rombongan disambut dan diiringi menuju pintu gerbang Irau dengan tarian penyambutan sebagai penghormatan kepada pemimpin dan para tamu. Mengawali rangkaian upacara, digelar Neteng Nengei yaitu upacara untuk memohon penyertaan dan perlindungan Yang Maha Kuasa Penguasa Alam Semesta agar upacara dapat berlangsung tanpa rintangan, serta lantunan do’a untuk mendatangkan kebaikan dan harapan, membawa kesejahteraan dan keamanan. Memasuki tempat upacara, Bupati dan rombongan dipersilahkan memetik masing-masing sehelai daun sebagai ucapan selamat datang dan diperhitungkan sebagai Sakai atau tamu yang akan dilayani secara khusus selama acara berlangsung dan mendapatkan perlindungan serta keamanan selama mengikuti upacara adat dan pesta yang akan diselenggarakan.

Pada acara puncak yaitu Nuwi Ulung. Upacara ini melambangkan persatuan dan kesatuan dari masyarakat Malinau yang didirikan dari semua etnis dan kelompok masyarakat yaitu dari Lundayeh, Kenya, Kayan, Tidung, Bulungan, Tingalan, Tahol, Abay, Punan, Belusu, Batalyon 614/Rjp, Kodim 0910/Mln, Brimob dan lain-lain. Ulung adalah sebuah kayu besar yang nantinya akan diberdirikan tegak dengan cara ditarik dengan empat tali. Pada saat Ulung berdiri, semua tali tetap dalam keadaan kencang sebelum selesai ditimbun. Setelah Ulung berdiri, maka buaya tanah sebagai lambang dari dua kekuatan di darat dan di laut dimusnahkan yang ditampilkan melalui tarian pemusnahan dan pemotongan sang penguasa laut dan darat yang diiringi dengan tari-tarian mengelilingi buaya, sebagai kegembiraan karena telah menaklukkan kekuatan yang selalu mengancam kehidupan manusia. Setelah tarian pemusnahan dua kekuatan yang mengancam kehidupan ditampilkan, selanjutnya ditampilkan Fekuab, yang mengisahkan tentang pemusnahan sang kekuatan. Setelah pemusnahan kekuatan dimusnahkan, semua kehidupan kembali normal dan hari esok bergantung dengan dengan apa yang akan kita buat pada hari ini.

Di akhir acara digelar upacara Maman Remarar, yaitu pesta yang secara simbolik menggambarkan kewajiban dan tanggung jawab dari anak-anak, menantu dan cucu terhadap orang tua dan menyimbolkan tanggung jawab anak-anak terhadap orang tua. Upacara ini diselenggarakan bila orang tua berusia lanjut dimana pada usia lanjut orang tua tidak bisa bekerja dan mencari nafkah.

Pada sore harinya digelar acara Paguyuban Etnis Tionghoa. Acara yang paling dinanti dalam rangkaian acara tersebut adalah penampilan Barongsai. Semua yang hadir dalam acara tersebut sudah tidak sabar untuk menunggu pertunjukan Barongsai. Para pemeran Barongsai berasal dari Berau, Tanjung Selor dan Tarakan. Ketika Barongsai mulai tampil, masyarakat yang hadir langsung berkumpul disekitar tempat berlangsungnya pertunjukan. Sesekali Barongsai menampilkan tingkah lucu dan membuat para pononton tertawa terpingkal-pingkal. Dan juga sering membuat para penonton berteriak histeris karena melihat tingkah Barongsai yang membuat jantung berdetak kencang. Di akhir pertunjukan, Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si beserta rombongan memberikan ampao kepada Barongsai tak terkecuali Dandim 0910/Mln.

sumber : kodimmalinau.com